Tampilkan postingan dengan label Dayak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dayak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 September 2011

Musik Sape' Dayak

Sape’ adalah alat musik petik dari Dayak Kayaan-Kenyah. Bentuknya seperti gitar. Perbedaannya terdapat pada posisi grip dan tak adanya lubang untuk menggaungkan bunyi petikan senar. Sumber bunyi sape’ hanya berasal dari petikan senar.
 Alat musik ini biasa dimainkan dalam acara-acara adat. Dulu, alat musik sape’ juga sering dimainkan kaum muda ketika mereka berkumpul pada malam hari. Di perkampungan masyarakat Dayak Kayaan- Kenyah pada masa lalu, sape’ juga sering dipakai kaum muda untuk mendekati perempuan yang ditaksirnya.

Biasanya sape’ dimainkan di rumah panjang atau rumah betang, yaitu rumah komunal masyarakat Dayak. Rumah betang itu disekat-sekat untuk ruang pribadi masing-masing keluarga. Di rumah betang juga tersedia ruang besar untuk acara adat atau berkumpul keluarga besar yang tinggal di rumah betang tersebut. Di ruang besar itulah, pada masa lalu, para pemuda Dayak unjuk kebolehan bermain sape’.

Read Rest Of Entry

Kamis, 24 Maret 2011

Mandau, Senjata Khas Dayak

Pada jaman dulu jika terjadi peperangan, suku Dayak pada umumnya menggunakan senjata khas mereka, yaitu mandau. Mandau merupakan sebuah pusaka yang secara turun-temurun yang digunakan oleh suku Dayak dan diaanggap sebagai sebuah benda keramat. Selain digunakan pada saat peperangan mandau juga biasanya dipakai oleh suku Dayak untuk menemani mereka dalam melakukan kegiatan keseharian mereka, seperti menebas atau memotong daging, tumbuh-tumbuhan, atau benda-benda lainnya yang perlu untuk di potong.

Biasanya orang awam akan sering kebingungan antara mandau dan ambang. Orang awam atau orang yang tidak terbiasa melihat atau pun memegang mandau akan sulit untuk membedakan antara mandau dengan ambang karena jika dilihat secara kasat mata memang keduanya hampir sama. Tetapi, keduanya sangatlah berbeda. Namun jika kita melihatnya dengan lebih detail maka akan terlihat perbedaan yang sangat mencolok, yaitu pada mandau terdapat ukiran atau bertatahkan emas, tembaga, atau perak dan mandau lebih kuat serta lentur, karena mandau terbuat dari batu gunung yang mengandung besi dan diolah oleh seorang ahli. Sedangkan ambang hanya terbuat dari besi biasa, seperti besu per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan atau batang besi lain.

Mandau atau Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau harus disimpan dan dirawat dengan baik ditempat khusus untuk penghormatan. Karena suku Dayak yakin bahwa mandau memiliki kekuatan spiritual yang mampu melindungi pemiliknya dari serangan atau niat jahat dari lawan-lawannya. Dan mandau juga diyakini dijaga oleh seorang perempuan, dan jika pemilik mandau tersebut bermimpi bertemu dengan perempuan yang menghuni mandau, berarti sang pemilik akan mendapatkan rejeki.

Mandau selain dibuat dari besi batuan gunung lalu diukir, pulang atau hulu mandau (tempat untuk memegang) dibuat berukiran dengan menggunakan tanduk kerbau untuk yang pulang-nya berwarna hitam. Dan menggunakan tanduk rusa untuk pulang yang berwarna putih. Pembuatan pulang dapat juga menggunakan kayu kayamihing. Pada bagian ujung dari pulang diberi atau ditaruh bulu binatang atau rambut manusia. Untuk dapat melengkatkan sebuah mandau dengan pulang dapat menggunakan getah kayu sambun yang terbukti sangat kuat kerekatannya.Setelah itu kemudian diikat lagi dengan jangang, namun jika jangang sulit ditemukan dapat menggunakan uei (anyaman rotan).
Besi mantikei yang digunakan untuk bahan baku pembuatan mandau dapat ditemukan didaerah Kerang Gambir, sungai Karo Jangkang, sungai Mantikei anak sungai Samba simpangan sungai Katingan, dan desa Tumbang Atei.

Tidak lengkap kiranya jika mandau tidak memiliki kumpang. Kumpang ialah sebutan sarung untuk mandau, kumpang mandau merupakan tampat masuknya mata mandau biasanya dilapisi tanduk rusa. Pada kumpang mandau diberi tempuser undang, yaitu ikatan yang terbuat dari anyaman uei (rotan).

Pada bagian depan kumpang dibuat sebuah sarung kecil tempat menyimpan langgei puai. Langgei puai adalah sejenis pisau kecil sebagai pelengkap mandau. Tangkainya panjang sekitar 20 cm dari mata anggei, bentuknya lebih kecil dari pada tangkainya. Fungsi dari langgei puai adalah untuk menghaluskan atau membersihkan benda-benda, contohnya rotan. Sarung atau kumpang langgei selalu melekat pada kumpang mandau. Sehingga dapat dikatakan bahwa antara mandau dan langgei puai adalah sebuah kesatuan yang tidak dapat terpisahkan.

Read Rest Of Entry

Kamis, 24 Februari 2011

Anjungan Kalimantan Barat

Ini adalah beberapa hasil foto yang saya ambil di Anjungan Kalimantan Barta di TMII. Salah satunya adalah foto disamping, anjungan Kalimantan Barat yang saya lihat ini cukup mengaambarkan keadaan dan bentuk rumah adat Kalimantan Barat yang sebenarnya.
 Menurut saya bangunan adat ini sangat tradisional dan kulturistik, Keadaan dan gambaran masyarakatnya sangan terlihat pada setiap lekuk bengunana tersebut. Lihat saja bentuk atapnyayang tidak dari genting, melainkan dari serat-serat pepohonan. Panggung bangunannya juga yang terlihat lerbih berbeda dari beberapa bangunan rumah adat yang lainnya.

Saya juga menemukan hal unik lainnya pada rumah adat Kalimantan Barat ini, lihat saja tanggatangga yang melintang dari pintu depan rumah adat ini sepanjang panggungnya. Tangganya hanya berupa batang pohon yang dicoak beberapa, (tidak sampai patah) sebagai tumpuan kaki atau tangan untuk menaiki rumah tersebut, kreatifitas yang luar biasa bagi para masyarakat sukunya ditengah kemajuan teknologi yang ada. Hampir semua rumah adat di Kalimantan Barat yang ditinggali suku asli mereka, memakai konsep dan bentuk bangunan yang sama, dengan atap yang terbuat dari serat pohon, dindingnya yang terbuat dari kayu, pagarnya, dan tangganya, semua hal yang tradisional begitu melekat pada keseharian mereka.

patung Ini juga ada contoh patung suku Dayak. Suku yang berasla dari Kalimantan Barat. Patung-patung ini banyak mereka gunakan untuk disembah atau penjaga mereka, semacam berhala. Masyarakat suku Dayak mempercayai, bahwa didalam patung-patung tersebut bersemayam roh nenek moyang mereka, yang dapat memberikan kebahagiaan bagi kehidupan mereka. Patung-patung ini juga seringkali diletakkan didepan pintu rumah-rumah mereka, atau disamping-samping tangga yang menuju pintu atas. Karena dipercaya, roh nenek moyang yang berada di dalamnya dapat menjaga dan memperingati mereka akan bahaya yang akan datang pada penghuni rumah tersebut, atau keluarga mereka. Karena nenek-nenek moyang tersebut adalah pendahulu mereka, atau orang tua mereka dimasa lampau, maka roh-roh tersebut tidaka akan mau cucu-cucunya mendapatkan penderitaan.
Sumber :http://anggamarbels.ngeblogs.com/2010/01/08/anjungan-kalimantan-barat/

Read Rest Of Entry

Followers

 

The Island Of Borneo Copyright © 2011 Template Blog Is Designed by SiNyO